Friday, October 20, 2017

Abby Tamasya ke Hamilton, Taupo, Rotorua, Hobbiton - Bagian 2 (Late Post)

Lanjut lagi ke bagian kedua dari Abby Tamasya yang berlangsung di akhir Desember 2016 lalu. Kalau di post sebelumnya kita sudah membahas "Nginap di Mana" dan "Makan Di Mana", maka kali ini kita akan membahas soal "Ngapain Aja" alias aktivitas kita selama tamasya waktu itu. Setelah milih-milih foto, ternyata baru sampai hari ke dua aja, fotonya udah bejibun walau cuma diambil dikit-dikit dari tiap aktivitas. Padahal ini nggak termasuk tempat tinggal dan makanan loh. Jadilah bagian "Ngapain Aja" ini dibagi dua ya. Yang hari ini akan meliputi Hamilton, Taupo, dan malam pertama di Rotorua. Penasaran nggak? Yuk kita lanjut jalan-jalannya!

Hamilton Garden

Selama kurang dari setahun tinggal di Auckland, ini adalah kali ketiga kita pergi ke Hamilton Garden. Pertama di musim dingin, kedua di musim semi, dan kali ini yang ketiga di musim panas. Kerennya, setiap musim memberikan nuansa berbeda, terutama dari vegetasinya. Untuk lihat cerita kita di Hamilton Garden di musim dingin, bisa intip ke sini untuk foto yang jauh lebih banyak. Di sini saya taruh dikit aja. Yang menyenangkan dari Hamilton Garden ini, selain bagus banget, masuknya juga gratis. Jadi saya nyebut sekali lagi deh, brasa kalau uang pajak kita gak lari sia-sia hihihihi. Pergi pas musim panas, ternyata mateng banget loh nyengetnya matahari. Cuma si mami mertua aja yang masih bertahan pake jaket, sisanya semua udah ngipas-ngipas.

Pasukan turis kepanasan. Abby masih masuk di strollernya. Setelah travel waktu itu, Abby udah nggak naik stroller lagi hihihi.

4 manusia berkacamata hitam di pavilion Chinese Scholar Garden.

Aku keren nggak? Modernist Garden yang biasanya sepi karena paling gak menarik, hari itu rame banget, dan kolamnya beneran dipake sama orang-orang untuk berendem, padahal bukan kolam renang.

Indian Char Bagh Garden, kali ini bunganya mekar semua berwarna-warni, bahkan keluar wanginya. Beda banget dengan saat musim dingin yang gersang. 

Anak kecil, memang nggak boleh lihat air, nggak tahan untuk nutupin lubang tempat air keluar. 

Yang ini pose "Kumenanti seorang kekasih" Hihihi. 

Mabok hamil muda dan kepanasan, untung masih bisa senyum. 

Italian Renaissance Garden, kali ini jeruknya pada ilang semua, padahal pas winter itu pohon penuh bulet-bulet oranye. 

Semuanya bikin tanda V, padahal cuma masuk lorong doang. Ini pada narsis semua termasuk yang kecil. 

Di depan lumbung umbi-umbian dari Te Parapara Garden. Itu di belakang pohon ubi alias kumara-nya beneran tumbuh loh. 

Si oma akhirnya kagak tahan juga, lepas jaket hihihi. Ini namanya Tudor Garden. Kalau kata Abby itu belakangnya castlenya Sofia. 

Kalau di Surabaya ada Jembatan Merah, di Hamilton ada Jembatan Ijo. Pasangan berbahagia lagi pose nih ye!

Tropical Garden yang rasanya bener-bener tropical soalnya cuacanya hot hot hot!

Mami mertua, mana tahan dia kalau nggak ke toko souvenir. Padahal yang dibeli cuma reptil karet, senengnya minta ampun. 

Semua pada makan eskrim dulu di kafe-nya saking panas.

Nih belanjaan oma: cicak, kadal, komodo, semuanya dari karet warna warni. Iseng bener!

Ketemu Teman-teman dari Wellington

Yang ini beneran nggak terduga. Kita dari Auckland yang posisinya di Utara, ketemu dengan teman-teman dari Wellington yang posisinya di Selatan. Ketemunya di tengah dong, alias di Taupo. Jadilah walaupun cuma sebentar, kita temu kangen dulu. Ketemuan sama mereka di NZ kali pertama adalah saat saya sekeluarga road trip ke Wellington di bulan Juni 2016 lalu. Kalau mau ngintip kisah road tripnya, bisa klik di sini. Ada keluarga Airin dan Tony, lalu keluarga Rendy dan Felicia, beserta anak-anak mereka yang masing-masing dua cewek. Ngga nyangka, saya juga nyusul punya anak cewek dua juga! Padahal pas di sini belum tau loh kelamin anak kedua saya. Airin adalah teman saya dari SMA, lalu Rendy dan Felicia adalah teman saya pas kuliah dulu. Senengnya ketemuan walaupun cuma sebentar saja. Pertama kita ngunjungi penginapan mereka, dan kedua, besok paginya saat sarapan di Dixie Browns.

Sebelah kiri saya, Tony dan Airin dengan dua bocahnya Tammy and Tiara, lalu sebelah kanan saya Felicia dan Rendy dengan dua bocahnya Kaeshi dan Kaeli. 
Tiara, Kaeshi, Tamara, Abby (biarpun malem, tetep pake kacamata item).

Kaeli si botak ikutan nyempil!

Mami mertua yang demen banget anak kecil, gendong-gendong Kaeli. eh ternyata dapet cucunya cewek juga. Hihihi.
Huka Falls Cruise

Ke Taupo, tidak lengkap tanpa mampir ke Huka Falls, air terjun dengan debit air sangat deras yaitu 220,000 liter per detik! Bayangin kalau jatuh di situ, dijamin hanyut dengan sukses. Hiyyyy... Makanya jangan terjun atau main-main ya, cukup lihat dan nikmati pemandangannya aja. Ada beberapa cara kita melihat Huka Falls. Bisa langsung dari parkiran dan gratis, bisa dengan naik Huka Jet yang seru dan berputar-putar dengan kecepatan tinggi (yang ini tentunya a big no no for bumil), atau bisa juga dengan naik Huka Falls River Cruise yang kecepatan rendah dan santai. Pilihan kita jatuh pada yang terakhir karena selain saya lagi hamil, mertua juga bukan tipe orang yang adventurous untuk naik jetboat. Naik cruise ini biayanya adalah 39 dolar per orang, untuk cruise santai menyusuri Waikato River selama lebih kurang 1 jam 20 menit. Titik keberangkatan cruise ini ada di kompleks yang sama dengan Aratiatia Dam yang juga terkenal. Tentunya kita tidak melewatkan kesempatan untuk foto-foto dulu di dam, sebelum naik perahu. 

Aratiatia Dam ini, dibuka cuma 4 kali saja dalam sehari selama musim panas yaitu pukul 10 pagi, 12 siang, 2 siang, dan 4 sore. Beruntungnya kita tiba saat dam dibuka di pukul 12 siang.

Begitu dam dibuka, mengalirlah air kencang sebanyak 80,000 liter per detik! Bayangin nggak kencangnya kayak apa? Makanya kekuatan air ini bisa dipakai untuk pembangkit listrik tenaga air. Saking kencangnya, udah kayak busa sabun ya? 

Foto keluarga dulu di depan Aratiatia dam (dimana nggak keliatan itu dam-nya ketutupan sama kita hahaha)

Pemandangan Waikato River nan cantik. 

Ditambah dengan pasangan ini, tambah bagus ngga pemandangannya ? (pretttt)

Begitu di zoom, streamnya bagus banget, beneran kayak busa sabun saking derasnya.

Tiba juga saatnya kita cruise. Wah, hari itu kapalnya bener-bener full capacity deh. Sampai nggak ada tempat duduk extra kecuali di luar. Keliatan nggak di atap itu ada apaan? 
Para peserta yang siap bertualang.



Kalau ada yang nebak di atap itu duit, selamat, anda benar! (atau anda mata duitan). Coba di zoom, liat ada rupiahnya atau ngga. ... zoom...zoom... ada tuh duit 2000 perak!

Complimentary tea and coffee, tapi silakan ngaduk sendiri. 

Nih dia kapalnya dari luar. Siap berangkattt!

Selama perjalanan yang bagian santai, skipper kita nawarin ke orang-orang, siapa yang mau mengendalikan kapal. Tentunya papi mertua ngga mau dong ketinggalan (entah karena penasaran, atau karena biar ada fotonya lagi mengemudi kapal hahaha). Lumayan loh papi mertua bagus nyetirnya, soalnya ada 1 orang yang bikin kapal kita muter-muter 360 derajat hihihi. It was a fun and relaxing cruise.

Mami mertua, bergaya dulu di buritan.

Ayo yang mata duitan, cari lagi, ada nggak duit rupiahnya? 

Akhirnya, sampai juga kita di huka falls. Bagus ya! Karena kencang banget dan deras airnya, sampai kelihatan kayak es. Nah kapal kecil itu adalah Huka Jet. Kalau saya nggak hamil, saya mau naik itu!

Huka Falls lagi, tanpa jet-nya. Tiap keluarga dikasih kesempatan untuk foto cuma beberapa detik aja di sini, dan tentu saja kita nggak dapet dong foto barengnya. SUSAH BANGET CUY! Ngga apa deh, yang penting enjoy pemandangan. 

Gak dapet background air terjun gak apa-apa deh. Nasib....

Nah, ini akhirnya mertua dapet background air terjun, tapi udah keburu jauhhh.

Foto serombongan, difotoin sama turis dari Pakistan (kayaknya).

Seneng amat ya, By!

Foto di depan kapal, diphotobombed sama skipper kapalnya.

Antri wece satu-satunya di situ. Mana modelnya long drop toilet yang langsung nyemplung. Tapi hebatnya gak kotor dan gak bau. Tanya kenapa.
Wai O Tapu Thermal

Perjalanan dilanjutkan ke menuju Rotorua via Wai O Tapu. Kita dikasih tau sama skipper kapal, kalau di Wai O Tapu, selain ada Wai O Tapu Thermal Wonderland dimana kita bisa muterin area geothermal alami yang mengandung belerang dan melihat Lady Knox Geyser, ada juga kolam air hangat gratisan, di mana turis-turisnya pada nyemplung di situ.

Ini area Wai O Tapu Thermal Wonderland. Kita cuma mampir ke sini nanti untuk ngafe dan toilet stop. Kalau mau masuk menjelajah, sebenernya bagus banget, tapi kita ngga mampir karena memang ngga masuk dalam itinerary kita, dan jaman dulu kita pernah melihat yang hampir mirip di Whakarewarewa Maori Village. Kalau ada yang tertarik, harga tiketnya 32.50 dolar per orang. 

Nah, di jalan menuju Thermal Wonderland, kita lihat mobil-mobil parkir di pinggir jalan, padahal kelihatan ngga ada apa-apa di situ. Kita duga-duga, di situ pasti deh kolamnya. 

Bener aja! Udah kayak cendol orang berendem gratis, air panas alami loh ini. 

Baju...lempar! Celana... lempar! Sendal... lempar!

Mampir di cafe buat nyemil sore.

Kasian di rumah gak punya pohon Natal, jadi pose di kafe punya aja deh.

Nah, kalau ini Scenic Reservenya, bisa foto-foto gratis. Tuh lihat di belakang berasap, penuh letupan-letupan lumpur.

Anak ini gak tahan bau kentut eh...bau belerang, jadi nutup hidung.

Tuh lumpurnya panas banget meletup-letup, kalau nyemplung kayaknya bakalan tamat.

Nih kalau mau dibaca jelas, zoom aja sampe gede. 

Bersama adik ipar, entah dia lagi pose apa, padahal gak dingin-dingin amat :P

Nih mud poolnya kalau dilihat dari atas.

Mesra bersama opa tersayang

Pose lipet tangan.

Ati-ati, Pi, HPnya kalau nyemplung tar gak balik lagi.
Tamaki Maori Village

Ini dia highlight of the day kita. Kunjungan ke Tamaki Maori Village untuk mempelajari budaya Maori langsung di kampungnya. Biayanya 130 dolar per orang, sudah termasuk antar jemput dan makan malam hangi alias makanan tradisional orang Maori (tahun lalu masih 115 dolar padahal). Kalau dilihat biayanya nggak murah ya, tapi kok pas booking ini, udah hampir penuh! Mau kloter pukul 6 sore penuh, akhirnya dapat kloter pukul 7 malam yang berakibat perut ini krucukan sebelum jam makan malam. Padahal satu kloternya itu ratusan loh orangnya. Saat saya kecil dulu, saya pernah mengunjungi Maori Village, tetapi beda sekali pengalamannya dengan di sini, karena yang di sini betul-betul dapat overall experience. Jadi, buat yang kali pertama berkunjung ke Rotorua, bolehlah dicoba. Booking jauh-jauh hari ya kalau lagi high season.

Ini dia bus yang menjemput kita sore itu dari penginapan. Sopirnya gokil minta ampun dan sangat interaktif. Dari pergi sampai pulang, kita nggak berhenti ketawa dihibur sama dia. Bayangin, dia bisa greeting dan sebut beberapa kata sederhana dalam berbagai bahasa, sampai bikin kita terkagum-kagum. Mungkin saking seringnya bawa turis.

Setelah dijemput, kita mampir dulu ke kantornya untuk mengambil program sheet dan tiket masuk.

Grup saya namanya grup Kiwi. Nah, penamaan grup ini juga berguna untuk nanti makan malam. Karena grupnya banyak, supaya gilirannya rapi, dipanggil nama grup satu-satu. 

Ini dia sopir kita yang gokil banget. Badannya besar, tapi ramah sekali.

Di tengah perjalanan, kita harus memilih satu kepala suku, dan akhirnya terpilihlah salah satu bapak di dalam bus yang dinominasikan teman-temannya. Kalau nggak salah namanya Howard Dia disambut dengan adu hidung, greeting ala Maori.

Tibalah kita di kampung Tamaki yang letaknya beberapa kilometer dari pusat kota. Suasananya masih sangat ijo royo-royo. 

Rombongan dari berbagai bus dikumpulkan di satu tempat. Ada 4 kepala suku yang maju ke depan untuk mewakili kita di upacara penyambutan.

Tidak lama kemudian, dari sungai muncullah sebuah perahu, dan keluarlah para ksatria Maori.

Mereka menari dengan ekspresi wajah yang sangat seru. Para wanitanya menunggu di belakang.

Ucapan selamat datang kepada kepala suku, lagi-lagi dengan adu jidat dan hidung.
Setelah ini, rombongan besar dibagi-bagi menjadi rombongan kecil, dan masing-masing dibawa ke stasiun-stasiun untuk menerangkan budaya Maori. Ada penjelasan soal perahu, soal tarian, soal rumah, dan sebagainya.

Ini adalah perahu tradisional bangsa Maori. Mereka datang dari kepulauan pasifik, menuju ke tanah Selandia baru dengan menggunakan perahu-perahu seperti ini.

Sang pemuda sedang menerangkan tradisi perahu. Tato di wajah mereka disebut dengan Ta Moko. Makin banyak tatonya, makin tinggi kedudukannya.

Nah, ini yang tadi berperan jadi kepala sukunya, makanya Ta Moko-nya banyak hampir satu wajah.

Kemudian di stasiun lainnya, yang wanita belajar Poi Dance. Saya ikutan volunteer dong, kapan lagi? Poi adalah jenis dansa yang menggunakan bola Poi yang berwarna putih dan bertali. Poinya itu diputar-putar kadang sambil seperti memukul-mukul badan. Ternyata susah banget loh (buat saya)!

Papi mertua video-in saya nari, sampai cuek pakai tas wanita alias tas saya hahaha.

Bumil latihan Poi dance. 

Para wanita Maori, juga memakai Ta Moko di dagu.

Dua cowok ini, siap menyambut bapak-bapak yang mau berlatih Haka dance.

Kali ini giliran papi mertua dan suami yang volunteer. Kali ini bapak-bapak lebih berani, jadi hampir semua bapak-bapak di grup kecil saya ikutan.

Ciri khas greeting Maori, julurin lidah sepanjang-panjangnya. Lihat deh di background. Turis-turisnya juga nggak mau kalah.

Lihat badan orang Maori, mendadak orang Indonesia jadi kayak kurcaci.

Kita juga dijelaskan mengenai rumah tradisional maori, dan cara mereka menyimpan hasil tani.

Itu suami, mau gaya julurin lidah, tapi nggak maksimal. Melotot juga nggak bisa hahahaha. Iye lah, sipit gitu!

Selanjutnya, kita dibawa ke tempat pembuatan Hangi alias makanan khas Maori dengan cara dimasak di dalam tanah. Untuk cerita lengkapnya, bisa diintip di post sebelumnya

Setelah selesai melihat proses Hangi, kita digiring (digiring kok serasa ternak hahaha) ke teater untuk pertunjukan tarian dan lagu tradisional.

Wuih rame benerrrr! Untung di sini mah gak over capacity, tiap orang pasti dapat kursi sendiri. 

Luwes banget dancenya, sambil nyanyi pula. Para wanita menggunakan rok Piupiu yang terbuat dari tanaman rami yang diwarnai. 

Pasangan ini menyanyikan lagu yang katanya sih lagu cinta. Wuih suaranya bagus banget! Menggelegar padahal nggak pakai microphone.

Para pria menarikan Haka dance.

Setelah menonton pertunjukkan, kita menuju ke ruang makan sebagai penutup acara. Nah, di perkampungan Maori ini, juga boleh loh kita menginap dan dan ikut belajar budayanya. Makanya pas kita makan malam itu, ada juga rombongan yang menginap di sini, mempersembahkan lagu yang mereka sudah pelajari selama menginap. Tapi, biayanya nggak murah loh per orangnya 250 dolar.
Untuk makan malamnya, bisa diintip di sini ya. Sesudah makan malam, kita diantar balik ke penginapan kita. Itu sopirnya bener-bener deh, kocaknya amit-amit. Dia brani banget melanggar peraturan lalu lintas dengan muter di roundabout yang sama lebih dari 10 kali (sampai peserta pada pusing), dan pencet klakson berkali-kali. Ditambah dia nyanyi lagu dari berbagai negara yang pesertanya ada di dalam bus. Eh tapi giliran lagu Indonesia, dia nggak bisa huahahaha. Jadilah dia minta saya nyanyi lagu singkat, dan saya nyanyi lagu Rasa Sayange (awas kalau di claim Malaysia hehehe). Lumayan, jadi perwakilan Indonesia. Pas kita di sana, dari ratusan orang, kayaknya cuma kita doang orang Indonesianya. Malah ketemu lumayan banyak orang Malaysia, dan yang terbanyak sih dari Eropa. Nah seru kan kunjungan ke Tamaki Maori Villagenya. Pulang-pulang, hati senang, perut kenyang.

Oke, saya kasih separuh dulu ya kisah "Ngapain Aja"-nya. Soalnya kalau ditambah, bakalan panjang bener, tar pas baca yang bawah, sudah lupa sama yang atas. Nantikan sambungannya yang seru, soalnya ada apa? Ada Hobbiton! Berhubung di Indonesia Hobbiton ini banyak banget KW-nya, di postingan depan saya kasih foto-foto dari yang orisinil. Ditunggu ya!

9 comments:

  1. seru jalan2nya... ketemuan temen2 juga asik ya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ketemuan temennya kebetulan aja, Man. Iya dong, jalan2 keluarga kita selalu seru.

      Delete
  2. 1. Gua cuma nontonin dam nya pas buka, kaga ikut cruisenya
    2. Waktu gua ke Lake Ferry ( 1.5 jam dr wellington ), di hotelnya ada duit rupiah juga. 1.000 rupia, tadinya gua mau ikut nyumbang, tapi apa daya, duitnya 100.000 semua hahaha.. Rugi bandar dah..
    3. Dulu gua perginya ke Hell's Gate.. Ngeri2 sedap sih memang kalau foto pake HP. Takut nyemplung juga hihi..
    4. Ditunggu postingan berikutnyaaaa...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini lu komen kayak lagi ngisi essay, In. Ada poin2nya hihihi.

      1. Tapi mampir Huka Fallsnya juga kan?
      2. Kalo duit receh mau diterima nggak ya? Hahaha.
      3. Mirip2 lah, cuma di Hell's Gate setau gue bisa mandi pake lumpur.
      4. Sipppp!

      Delete
    2. Wkwkwkwk..

      1. mampir donggg...
      2. Nah itu gua gak tahu, cuma kok rasanya kasih seribu tuh gimanaa gitu haha
      3. Iya, bisa mandi lumpur..

      Delete
  3. Gw kmrn ke Huka cuman ambil gratisan, le.
    Numpang poto trus babai..murahan banget ya gw?! lol.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gue yang sama nyokap juga cuma mampir doang di Huka Fallsnya, soalnya udah kesorean, plus kebayang nyokap gue kalau naik perahu cruise, pasti pules :P

      Delete
  4. Nah, Hobbiton itu yang ditunggu-tunggu penampakannya di sini, hahaha. Aku bahkan baru tahu di Malang juga udah ada KW-annya lho, cici iparku beberapa waktu lalu yang kasih info. Orang endonesiah kayak nggak ada ide lainnya aja nih bikin tempat wisata hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ditunggu yaaa. Rempong ngurusin 2 bocah jadi blm sempet2 ngeblog hahahah. Dijamin ori deh.

      Delete